Selasa, 04 September 2012

Amnesia

16 April 2012. Pagi itu seperti biasanya, tak ada keganjilan yang terlihat, baik dari aku maupun partner terbaikku setaun ini. Sebelum adik bungsu dan kedua orang tuaku pulang dari liburan panjang, aku pun bebenah rumah bersama adik perempuanku. Setelah rumah bersih, sekitar pukul 10.00 kedua orangtuaku dan si bungsu sampai di rumah. Tetapi tak lama mereka sampai, aku pun pamit untuk pergi ke rumah temanku. Seperti biasa, mama mengantarku sampai depan pagar rumah.

Kutarik gas penuh, 70 km/jam, kecepatan favoritku saat mengendarai motor. Suasana jalanan lengang, hari minggu ucapku dalam hati. Jalanan semasa aku kerja di catering. Catering di sebuah rumah sakit ternama di daerah Tangerang. Jalanan itu sudah aku hapal di luar kepala. Rute pertamaku adalah menjemput sahabatku semasa kuliah. Hari itu memang kami rencanakan untuk bertemu. Silaturahim, saling bertukar cerita dan bertukar info pengalaman kerja masing-masing. Ini merupakan taun pertama kami sebagai "fresh graduates".



Aku, Rida, Ivana dan Shabrina merupakan teman akrab semasa 3 tahun pendidikan diploma gizi. Kesamaan domisili membuat kami merasa dekat satu sama lain.  Selepas wisuda, kami berempat berpencar, melamar dan memilih pekerjaan sesuai minat masing-masing. Aku dan Rida memulai kerja pertamaku di catering, Ivana di bidang penelitian dan Shabrina menerima tawaran untuk mengisi posisi asisten dosen di kampus. Dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda dan kesibukan masing-masing, hari itu aku bersemangat sekali untuk bertemu mereka.


Aku teringat masa-masa kami kuliah. Tiap berangkat,kami jadwalkan selalu naik bis yang sama, walau dari tempat yang berbeda. Berdasarkan rute bis, ivana biasa naik paling pertama, setelah itu shabrina dan terakhir aku. Rida hanya ikut pada awal dan akhir minggu, karena di awal semester ia memutuskan untuk tidak pulang pergi dan ikut kost bersama kawan lainnya. Pengalaman ter"manis" adalah jika kami mendapat praktikum lab yang "overtime" dan harus pulang diatas pukul 18.00. Kami harus menunggu bis "antara ada dan tiada". Sering kami menunggu hingga 2jam di pinggir jalan, sering pula kami berjalan dari blok M hingga Ratu plaza. Tapi karena kami bertiga, 2jam tidak begitu berat dibandingkan harus berdiri menunggu seorang diri. "That's what friends are for" kalau kata lagu Dionne Warwick.



11.30. Aku terbangun. Entah dimana, gelap. Kupaksa tubuhku untuk berdiri. Pergelangan tangan kurasa sakit, pergelangan kaki perih, bahu dan pinggulku pun terasa memar. Kulihat Mio merah terparkir rapi dihadapanku. Aku tak tau apa yang telah terjadi. Rintik hujan mulai menetes. "Sedang apa aku di tempat ini?" pikirku. Berbagai pertanyaan muncul, aku hendak kemana, mengapa aku disini dan apa yang sudah terjadi. Pertanyaan-pertanyaan itu aku abaikan, rasa luka mulai terasa. Aku makin panik. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak ingat apa-apa.

Seorang lelaki mencoba menahanku dengan melambaikan tangan. Sekelibat, aku perhatikan memang ia sudah ada di warung kecil itu, telah berteduh bersamaku. Aku tidak peduli. Yang kupikirkan hanya, bagaimana caranya aku bisa ingat apa yang sebenarnya akan aku lakukan dan bagaimana caranya aku mendapat pertolongan medis. Kuambil jas hujan dalam bagasi motor. Setelah kukenakan, lalu aku langsung tarik gas, mengabaikan lambaian tangan dari si bapak itu.